Hallo, Homeschoolers!. Menyambut bulan baru, kita punya tema yang akan kita angkat loh di bulan ini! Kalian tahu ngga istilah “CIBI” ?. Hmmm.. penasaran yaaa? Yuk kita bahas!. CIBI itu adalah singkatan dari Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa. Nah, sebagian besar orang tua masih belum paham kalau anak mereka tergolong ke dalam kategori anak berbakat.

Selama ini, pemahaman masyarakat atas istilah berbakat, cerdas, dan pintar masih tumpang tindih. Padahal, ketiga istilah itu berbeda yaaa. Anak disebut berbakat jika sejak kecil sudah memiliki komitmen yang besar dengan bidang yang disukainya. Tak hanya itu, anak yang berbakat pun akan terus-menerus mengembangkan kemampuan yang dimilikinya itu. (kemampuannya melampaui di atas rata-rata). Anak yang berbakat juga memiliki kemampuan intelegensi yang jauh di atas rata-rata serta memiliki komitmen yang besar dan kreatif dalam bidang yang disukainya. Sehingga, bidang itu bisa dikembangkannya untuk menjadi lebih besar lagi (Misalnya ada anak yang senang olahraga. Kalau anak itu berbakat, maka ia akan terus mencari bahan tentang olahraga yang disukainya. Dengan begitu, si anak akan tahu tokoh, hasil pertandingan, hingga teknik-teknik olahraga tersebut. ”Anak berbakat itu akan all out.”)

Bagaimana dengan anak cerdas? Disebut cerdas karena memiliki taraf inteligensi yang tinggi. Namun, anak cerdas ini belum tentu memiliki komitmen yang besar dan belum tentu mampu berkreativitas. Sementara, istilah anak pintar, adalah istilah yang diberikan masyarakat luas untuk menunjukkan bahwa seorang anak berhasil dalam akademis dilihat dari keberhasilan dia memperoleh ranking tinggi di kelasnya. HSKS paham bahwa setiap anak unik dan pasti memiliki bakatnya masing-masing. Maka dari itu HSKS mengangkat tema ini.

Untuk mengetahui apakah seorang anak berbakat atau tidak, kita bisa lihat loh dari perkembangan motoriknya. Anak berbakat biasanya perkembangan motoriknya lebih cepat dibanding anak biasa. Bisa dalam segi berbicara, berjalan, maupun membaca. Misalnya, umur 9 bulan sudah bisa jalan (normalnya, usia 12,5 bulan). Selain itu, ia juga cepat dalam memegang sesuatu dan membedakan bentuk serta warna. Untuk kemampuan membaca, kadang anak berbakat memperolehnya dari belajar sendiri. Yaitu dari mengamati dan menghubung-hubungkan, misalnya dari memperhatikan lalu-lintas, teve, atau buku. Anak berbakat juga senang bereksplorasi atau menjajaki. Jadi, kalau ia mempreteli barang-barang, bukan karena dia nakal tapi karena rasa ingin tahunya.

Soal rasa ingin tahu yang tinggi ini, memang pada umumnya dimiliki anak kecil. Hanya, pada anak berbakat, cara mengamatinya lebih kental dibanding anak-anak biasa. Hal lain yang menjadi karakteristik anak berbakat ialah bicaranya bisa sangat serius. Pertanyaannya sering menggelitik dan tak terduga. Kadang ia tak puas dengan jawaban yang diberikan, sehingga terus berusaha mencari jawaban-jawaban lain. Waahh keren banget ya? 

Tidak hanya itu, kalian tahu nggak kalau ternyata cara belajar anak-anak pada umumnya akan berbeda dengan anak berbakat? Yup, ada teknik pengajaran khusus nih buat anak berbekat. Seperti apa saja? Ada beberapa cara nih, seperti:

1. Perbedaan Minat (Differentiation as a Function of Interest): Siswa yang berbakat mungkin tertarik dalam abstraksi, konsep, dan topik-topik yang mendasari daripada hanya sekadar keterangan faktual mengenai satu mata pelajaran. Mereka harus diberi kesempatan dan didorong untuk menggali kepentingan ini.

2. Perbedaan dalam Rentang Belajar (Differentiation in Rate of Learning): Banyak siswa berbakat yang belajar dengan amat cepat, hafal keterangan mata pelajaran faktual. Siswa ini harus diizinkan maju sesuai dengan kecepatan belajarnya. Siswa ini tidak perlu banyak waktu mengulang dan latihan untuk mendapatkan keterangan dasar. 

3. Perbedaan dalam Kedalaman (Differentiation in Depth): Dikarenakan fakta-fakta mata pelajaran dasar dihapal amat cepat oleh siswa yang berbakat, mereka dapat didorong menggali topik lebih dalam lagi. 

4. Perbedaan Kemandirian Berpikir dan Bimbingan Belajar(Differentiation Through Independent and Guided Study): Perbedaan yang jelas ini dapat dicapai, paling tidak sebagian, dengan memberikan kepada siswa berbakat untuk menggali lebih dalam ketertarikan mereka dengan kemampuan mereka melalui belajar mandiri, yaitu dibimbing oleh guru dan/atau konselor kelas. Hasil belajar mandiri siswa mungkin juga menghasilkan pengalaman pembelajaran lebih kaya bagi siswa lainnya melalui saling berbagi penemuan (Piirto, 1994 dalam J. David Smith, 2006).

Gimana? Ternyata anak-anak berbakat perlu ada treatment khusus nya yaaa? Tapi, di HSKS semua ada jawabannya! Karena #HSKSCerdasIstimewaBerbakatIstimewa